31 Jul 2023

Waktu Agar Dipercepat Sukses dan Bahagia

 

Waktu Agar Dipercepat Sukses dan Bahagia

Pengajian: Ustadz Adi Hidayat

Tanggal: 20-07-22

Sumberhttps://www.youtube.com/watch?v=pUI5_JNjK_w

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

  

1.Terkadang persoalan yang rumit di rumah tangga bisa selesai dengan senyuman ketika jembatannya dibangun. Makanya banyak persoalan yang tinggi itu terhempas diatas sajadah. Ketika sajadah dibentangkan lalu kita bersujud untuk beribadah, keluar air mata, lalu tuntas persoalan kita. Tapi tidak sedikit persoalan yang kecil menjadi membesar, karena kita banyak mainnya. Yang ditampilkan hanya kedudukan, harta benda, egosentris, dsb. Demikian juga dalam problem di kehidupan sosial, di dalam bisnis, dll. 

2.Kalau ada kata man dalam sebuah ayat, berarti ayat itu ditujukan bagi setiap hamba. Maka cara memahaminya, adalah ayat ini adalah buat saya. Kalau kita meningkatkan ketakwaan, maka Allah akan berikan solusi di semua aspek kehidupan. Bahkan untuk rezeki, karena rezeki itu tidak hanya uang dan pakaian. Keturunan, ketenangan, kenyamanan, itu semua adalah bentuk rezeki. Diberikan oleh Allah kemudahan, bahkan dari sisi yang tidak kita duga.

3.Surat Al-Baqarah ayat 282: ………………….  Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

4.Dalam Ayat diatas Allah berfirman bahwa jika kita meningkatkan takwa, maka Allah akan tambahkan pengetahuan. Itu adalah janji Allah. Karena itu orang di zaman dahulu tidak pernah mereka mulai belajar, sebelum meningkatkan sholat. Kalau kita ingin diberikan tambahan pengetahuan, sehingga bisa cepat dalam memahami sesuatu maka jaga 2 hal yaitu sholat dan Al-Qur’an. Ini yang dilakukan oleh orang di zaman dahulu. Jadi mereka meningkatkan sholatnya. Mulai dari kecil sudah menjaga sholatnya, terutama menjaga Sholat Subuh itu harus latihan dulu, karena ada banyak berkahnya. Sholat subuh paling banyak disaksikan oleh malaikat. Malaikat Malam dan Malaikat Siang yang kerjanya shift-shift-an itu menyertai saat kita sholat subuh. Hal ini terdapat di Surat Al-Isra ayat 78.

5.Surat Al-Isra ayat 78: Dirikan lah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikan lah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

6.Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Sungguh malaikat yang bertugas di malam hari dan di siang hari itu menyaksikan semua bacaan-bacaan yang dilakukan di waktu subuh.” Karena itu orang di zaman dahulu, sebelum subuh itu sudah bersiap-siap. Saking berharganya waktu subuh itu, karena saat itu dimulainya pergerakan kehidupan, dimana karbon dioksida diserap dan oksigen dikeluarkan.

7.Surat At-Takwir ayat 18dan demi subuh, apabila fajar nya telah menyingsing.

8.Kalau subuh itu tiba, maka peredaran kehidupan itu dimulai, nafasnya dimulai. Matahari mulai muncul, bunga-bunga tumbuh berkembang, oksigen banyak keluar, makanya subuh itu mahal. Maka kita harus sudah bangun sebelum subuh. Satu jam sebelum subuh adalah waktu yang paling ideal untuk belajar. Saat itu pikiran kita jernih.

9.Surat Al-Muzzammil ayat 6: Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

10.Kalau kita bisa bangun di waktu malam, khususnya mendekati waktu subuh (di sepertiga malam terakhir). Pada saat itu sentuhannya ke jiwa menjadi kuat dan ke ingatan itu dahsyat. Hal ini juga bisa di cek dalam hasil riset yang dikeluarkan oleh orang Barat. Suasana yang paling menenangkan, meneduhkan. Membuat konstruksi berpikir sehat dan cepat memahami sesuatu itu menjelang subuh, dan kita punya ayatnya. Masalahnya diparktik kan atau tidak?

11.Kita diminta untuk Sholat Tahajud itu bukan hanya diminta untuk bangun malam, tapi juga supaya pintar, emosi kita stabil, tenang, dan dapat terkoneksi tinggi dengan Allah. Puncaknya agar kita bisa dapat solusi. Pengetahuan bertambah.

12.Surat Al-Baqarah ayat 189: …………. dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

13.Kalau kita meningkatkan takwa kepada Allah maka kita akan cenderung bahagia. Oleh karena itu di dalam Surat Al-Baqarah ayat 21, di ujung ayatnya ditutup dengan kalimat takwa.

14.Surat Al-Baqarah ayat 21: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum mu, agar kamu bertakwa.

15.Surat Al-Baqarah ayat 21 di atas tersambung dengan Surat Az-Zariat ayat 56: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

16.Bukan hanya manusia, bahkan jin juga diminta untuk meningkatkan takwa agar hidupnya mudah.

 

Financial Mindset (Bagian 1)

Financial Mindset (Bagian 1)

Sharing: Ustadz Felix Siauw, Ustadz Weemar Aditya, Tsis

Tanggal: 31-03-2023

Sumber: YN Classroom

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

 

1.Kurang dan lebih itu sebenarnya bersifat immaterial daripada material. Kalau kita berbicara tentang kurang, maka orang banyak mengaitkannya dengan material. Contoh: Kurang makan, kurang minum, kurang uang. Demikian juga lebih itu bersifat immaterial dibandingkan material.

2.Kesulitan keuangan itu seperti kemarau pada tanaman. Jadi kalau kita mau membicarakan tentang kesulitan keuangan maka seperti kita berbicara tentang tanaman. Tanaman itu selalu melakukan adaptasi. Dia selalu melakukan penyesuaian karena kondisi-kondisi yang tidak ideal. Contoh: Kita sudah memiliki tanaman yang bagus dan tumbuh di tanah yang subur. Pada saat kita pindahkan ke suatu tempat, maka tanaman ini akan melakukan adaptasi. Adaptasi yang pertama dia akan menggugurkan daunnya. Dia juga akan mematikan sebagian besar sel-sel nya (menonaktifkan sel-sel nya). Sehingga kalau dilihat dalam pandangan mata orang, tanaman itu meranggas (daunnya hilang semua). Makanya tukang tanaman sebelum memindahkan pohon biasanya akan memotong daun-daunnya. Lalu ditanam di tempat yang baru. Di situ akan ada penyesuaian. Kalau kita belajar dari tanaman, maka dia akan mematikan diri, sebelum melakukan beberapa hal. Kalau pohon tidak merontokkan duannya, maka dia akan supply terus ke daun itu, dan ini akan mematikan dia sendiri, karena akan menghabiskan energinya dia. Maka dia harus memutus semua hal yang tidak perlu (shut down). Jadi daun di shut down, batang di shut down, dibiarkan kering. Tapi dia akan menyimpan energinya untuk melakukan sesuatu yang paling penting. Yaitu menumbuhkan akar. Hal ini sebenarnya sama dengan kondisi keuangan pada manusia. Karena keuangan itu sama kayak pohon.

3.Yang namanya finansial itu cuma 3. Ketiga hal ini harus dilakukan secara tertib, tidak boleh dibolak-balik.  Berikut 3 hal tersebut:

· Mengurangi pengeluaran. Hal ini harus dilakukan terlebih dahulu dan efeknya pasti instan. Maka setelah mengurangi pengeluaran, baru orang bisa berpikir untuk menambah pemasukan. Kalau ada orang yang kesulitan finansial, tapi yang dipikirkan pertama adalah apa yang bisa aku kerjakan, atau bisnis apa yang bisa aku lakukan supaya aku keluar dari kesulitan finansial. Ini pemikiran yang salah, karena kerjaannya pasti kacau. Ia akan panik, dan akhirnya akan terjebak lagiContoh: Jual motor untuk buka usaha. Justru usahanya akan bersifat panik. Karena dia belum mengurangi pengeluaran, tapi sudah berusaha untuk menambah pemasukan. 

·  Menambah pemasukan.

· Melibatkan eksternalPihak ekstrenal ini bisa dengan cara pinjam atau hibah.

4.Jack Ma berkata, “Jangan pernah mengajak usaha orang yang butuh duit.“ Karena orang yang butuh duit (BU) itu panik. Akhirnya apa yang ia lakukan itu tidak cerdas dan besar kemungkinan orang ini akan menipu. Karena BU dia tidak berpikir secara normal.

5.Law of Diminishing Marginal UtilityKehidupan kita sekarang dibombardir habis dengan yang namanya kepuasan materi. Seolah-olah seseorang itu dikatakan bahagia kalau punya materi. Orang mencari bahagia (pursuit of happiness). Sebenarnya bahagia itu di dunia hanya ilusi. Lebih tepatnya orang bukan mencari kebahagiaan di dunia, tapi sebenarnya orang mencari kenyamanan dan ketenangan di dalam hidup. Untuk menggambarkan Law of Diminishing Marginal Utility kita bisa mengambil contoh berbuka puasa dengan mie ayam yang enak sekali. Tapi kalau kita sudah makan mie ayam di mangkok yang kedua, maka kenikmatannya akan berkurang. Kalau kenikmatan makan mie  ayam di mangkok yang pertama rasanya 100, maka kenikmatan mie ayam di mangkok yang kedua tinggal 90, mangkok ketiga tinggal 40, dan di mangkok yang keempat sudah tinggal 0. Saat makan mie ayam di mangkok yang kelima kenikmatannya sudah minus. Padahal di awal-awal makan mie ayam ini enak banget. Ini sama dengan saat kita berbuka puasa. Pada saat kita punya banyak makanan, maka kebahagiaan itu saat kita merasa semua makanan itu bisa kita makan, di jam 17.00. Demikian juga saat kita minum es jerus saat kita buka puasa.

6.Kenikmatan itu semakin berkurang seiring dengan bertambahnya konsumsi. Tidak ada kebahagiaan yang hakiki di dunia ini. Pasti akan mentok, dan kemudian turun. Segala sesuatu itu fana. Termasuk kepuasan itu juga adalah sesuatu yang fana. Oleh karena itu bahagia itu bukan ada pada materi. Kalau ada orang yang masih menganggap kebahagiaan itu ada pada materi. Maka di situ lah letak dia akan sengsara. Karena ada satu titik materi itu benar-benar tidak ada lagi rasanya bagi kita. Jadi sudah kayak kebal/baal. Kita tidak lagi bisa merasa.

7.Ketika seseorang terus menerus mengkonsumsi sesuatu maka dia akan resisten. Sesuatu yang pada awalnya enak, jadi tidak enak. Kalau awalnya dia puas, maka jadi tidak puas. Ini seperti kasusnya Il-Nam dalam Film Squid Game. Dia merasa tidak bisa menikmati apa-apa lagi. Contoh: Pada saat Ustadz Felix gajinya masih 1 juta/bulan, makan nasi Hainan seharga 50 ribu di restoran rasanya sudah enak sekali. Tetapi saat gajinya naik jadi 3 juta per bulan, saat makan makanan yang sama jadi kurang terasa enaknya. Maka kalau kita merasa bahagia itu ada pada materi, maka disitu kita akan merasakan masalah (problem).

8.Dunia ini membuat kita tertarik dan terikat pada materiContoh: Orang Amerika setiap hari terekspose 4,000-10.000 iklan (ads) per hari. Jadi ada banyak sekali kapitalis di luar sana yang tugasnya menciptakan kebutuhan yang sebenarnya bukan kebutuhan. Seolah-olah berkata seandainya kita tidak memenuhi diri kita dengan produk-produk yang ini, berarti kita tidak bahagia. jadi kita dipaksa konsumtif. Dalam ekonomi kapitalis, salah satu faktor yang bisa meninggikan ekonomi itu adalah konsumsi dan produksi yang tinggi. Mereka tidak peduli kita perlu atau tidak. Yang penting harus dijual. Harus ada produksi dan konsumsi yang tinggi agar ekonomi bergerak. Mereka akan mengatakan bahwa kalau kita tidak punya produk mereka, maka kita tidak akan bahagia.

9.Bahagia adalah jarak antara keinginan yang mereka ciptakan dengan kenyataan yang bisa kita penuhi. Maka kalau kita punya keinginan dan tidak bisa kita penuhi, maka seolah-olah kita tidak bahagia. Contoh: HP Ustadz Felix dulu tahun 2019 adalah Samsung S-10E dan sudah dipakai selama 4 tahun. Hidup Ustadz Felix saat itu baik-baik saja, sampai ada Tsis yang memberitahu tentang IPhone yang dia miliki. Ustadz Felix jadi merasa hidupnya kurang, tidak sempurna, tidak bahagia. Iklan-iklan ini menghampiri kita dan mengatakan bahwa kita tidak bahagia. Tugas dari iklan adalah menjadikan keinginan menjadi sebuah keperluan.

10.Jebakan yang terjadi pada orang-orang itu adalah ketika kapitalisme atau pasar ini berhasil menjadikan setiap keinginan (wants) menjadi kebutuhan (needs)Jadi setiap keinginan menjadi sebuah keperluan atau kebutuhan. Padahal itu hanya keinginan yang kalau tidak dipenuhi juga tidak apa-apa. Contoh: Orang merasa dia harus pakai MacBook. Kalau tidak pakai MacBook maka dia tidak eksis, dianggap tidak profesional. Orang merasa harus pakai iPhone. Kalau tidak pakai iPhone dia ketinggalan (FOMO). Needs VS Wants ini perlu benar-benar kita pahami. Needs adalah satu hal, sedangkan wants ini adalah hal yang berbeda. Needs itu kalau tidak dipenuhi bisa mati. Kalau wants tidak dipenuhi, tidak apa-apa.

11.Yang perlu kita lakukan adalah mendetoks pikiran kita agar needs dan wants ini kembali terpisah. Masalahnya bagaimana caranya? Terkadang orang itu seperti tidak tahu diri. Sebenarnya ia tidak perlu sampai di titik itu, misalnya sampai harus punya iPhone, karena iPhone ini mahal sekali. IPhone ini lebih ke nilai simbol, tapi nilai gunanya mungkin tidak sebanyak itu. Nilai estetikanya juga mungkin tidak sebanyak itu. Tapi yang paling besar nilai simbol Apple-nya. Sama dengan apakah semua orang harus memiliki MacBook Pro? Apakah semua orang harus beli mobil? Apakah semua orang harus belil motor? Seringkali kita terjebak antara needs dangan wants. Seolah-olah dia harus memiliki sesuatu yang padahal sebenarnya tidak.  

12.Jim Carrey berkata, “Saya berdoa seandainya semua orang itu jadi kaya. Biar mereka paham bahwasanya kekayaan itu tidak membuat mereka bahagia.” Batasnya kaya itu ya segitu. Ternyata hidup itu sawang sinawang. Batasnya yang bisa dibeli dengan uang itu ya segitu saja. Masalahnya ada orang yang tidak punya, tapi keinginannya lebih besar dari orang-orang yang sudah punya. Akhirnya keinginan itu yang “membunuh” mereka. Karena mereka berusaha untuk memenuhi sesuatu yang sebenarnya tidak bisa mereka penuhi.

13.Marketplace membuat sesuatu yang sebenarnya wants menjadi needsSehingga marketplace akan memudahkan segala sesuatu menjadi needs. Apalagi nanti kalau sudah eranya Artificial Intelligence (AI). Kita sedang ngobrol saja, nanti bisa tiba-tiba muncul notifikasinya, bahkan berikut skema cicilannya. Saat ini di marketplace kita bukan hanya bisa follow toko tapi juga tokoh atau influencer. Jadi kita bisa tahu tokoh atau influencer yang kita follow pakai brand apa. Berapa kali kita check out barang yang sebenarnya tidak kita perlukan. Kita jadi impulsive buying.

14.Kita seringkali merasa bahwa itu sebuah needs yang diverifikasi dan dilegitimasi bahwa itu untuk keperluan kebaikan (dakwah). Padahal itu sebenarnya bukan needs kita, tapi sekedar wants kita. Wants-nya juga tidak terlalu penting. Tapi jadi panic bayingimpulsive. Kita merasa perlu padahal kita tidak perlu. Bayangkan apa yang terjadi pada anak zaman sekarang yang tidak punya financial mindset yang benar, punya uang banyak, dan dimudahkan dengan adanya marketplace. Mereka jadi bebas mau beli apapun. Pikirannya jadi tidak make sense lagi. Mereka terkadang bahkan membeli barang yang tidak mereka mau. Cuma karena merasa penasaran saja sama barang itu. Kalau zaman dahulu masih ada Batasan, karena mungkin kita tidak tahu barangnya ada dimana. Contoh: Saat ke toko buku kita hanya bisa beli produk yang ada di sana. Tapi sekarang semua terbuka (open), no borderborderless.

15.Kalau kita mau bicara tentang financial mindset, maka pertama tentukan cukup kita. Kalau kita tahu cukup kita itu dimana, maka kita punya syukur. Syukur itu muncul ketika kita sudah menentukan cukup kita berapa. Maka bagi orang-orang yang secara fiannsial sulit, pertanyaan pertama adalah, “Menurut kamu, cukupnya berapa per bulan.” Jadi semua dipangkas (seperti daun di pohon tadi), lalu tentukan cukupnya berapa. Contoh: 1 bulan cukup dengan uang 1.5 juta. Maka setiap kita mendapatkan uang diluar 1.5 juta, maka kita akan bersyukur. Syukur itu nanti yang akan menjadikan bahagia. Karena syukur itu yang akan membuat kita tenang. Konsep syukur itu immaterial, bukan perkara-perkara yang material. Bahkan kalau ada orang yang sudah menetapkan bahwa cukupnya itu asal bisa makan dan tidur dan tidak perlu dipatok 1.5 juta per bulan, maka dia sudah bisa bersyukur.

16.Rasulullah  bersabda, “Kalau seseorang sudah punya makanan dan tempat tidur di malam hari, maka dia sudah dianggap orang-orang yang dicukupi oleh Allah, dan dia harus menjadi seorang hamba yang bersyukur.” Pertanyaannya apa yang kita cari di dunia ini sebenarnya? Karena visi kita akan sangat menentukan saat kita berada dalam kondisi yang seperti itu. Orang yang terombang-ambing adalah mereka yang tidak tahu hidupnya mau dibawa kemana. Sehingga melihat apapun jadi kepengen. Dia tidak tahu ini sesuai dengan yang kita tuju atau tidak. Semakin banyak kita melihat iklan (advertising), maka semakin kita akan tersiksa hidup di dunia. Jadi cukupnya kita itu dimana? Kalau kita masih punya barang dan itu cukup, maka untuk apa kita beli barang yang baru. Tapi kita senantiasa tersiksa dengan perasaan bahwa kita perlu barang itu. Kalau kita punya barang itu pasti lebih bahagia. Ini adalah masalah (problem) yang kita hadapi saat ini. 

17.Kalau itu memang kebutuhan kita sebenarnya tidak perlu dipikirin, nanti tiba-tiba bisa datang saja barangnya. Kita bisa dapat barang itu dengan less effort. Jadi tidak perlu menghabiskan banyak pikiran kita. Kalau keinginan justru akan banyak effort karena kita memikirkan bagaimana cara mendapatkannya. Ini akan jadi toxic. Kita jadi mikir, nunggu, harus nabung berapa lama.

(Bersambung)

Financial Mindset


Sharing: Ustadz Felix Siauw, Ustadz Weemar Aditya, dan Tsis

Tanggal: 31-03-2023

Sumber: YN Classroom

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 

 

1.Kalau kita sudah punya visi, maka itu akan lebih mudah untuk membedakan mana yang kita perlu dan mana yang tidak kita perlukan. Bagi Ustadz Felix untuk urusan dakwah, tidak perlu kompromi. Kalau perlu beli suatu barang yang harganya 10 juta dan saat itu Ustadz Felix punya uang 10 juta, maka uangnya akang dihabiskan untuk membeli barang itu. Tapi kalau itu untuk keperluan pribadi, maka Ustadz Felix akan jadi orang yang pelit, karena Ustadz Felix akan berpikir berkali-kali. Contoh: Saat Ustadz Felix perlu beli HP baru karena batere HP nya sudah drain, maka akan ditunda-tunda. Awalnya Ustadz Felix beli betere HP saja, tapi ternyata 2 minggu kemudian baterenya HP barunya juga drain lagi. Akhirnya Ustadz Felix mengambil kesimpulan bahwa aps itu setiap waktu akan “makan baterai” lebih banyak. Kalaupun Ustadz Felix beli iPhone, maka yang akan memakainya Tsis, karena lebih bisa dioptimalkan. Kalau Ustadz Felix pakai HP hanya untuk WhatsApp’s dan Telegram saja, jadi tidak perlu gengsi. Menurut Ustadz Felix iPhone itu hanya bagus untuk foto (kameranya) saja.

2.Orang yag sudah punya visi akan menyiapkan jawaban sebelum dia minta sesuatu. Jangan minta sesuatu dulu baru menyiapkan jawaban. Contoh: Ini ada barang bagus, ya sudah kita beli saja. Lalu baru berpikir barang ini untuk apa? Apa yang akan kita lakukan dengan barang ini? Bukan begitu seharusnya. Ustadz Felix baru akan beli barang yang baru, kalau barang lamanya sudah rusak. Ini mindset yang penting. Kalau kita tidak memiliki mindset dakwah, maka akan sulit sekali untuk membedakan apa yang boleh kita beli dan yang tidak boleh kita beli. Yang sudah punya mindset dakwah saja kadang masih bisa keceleMerasa ini untuk dakwah, padahal bukan.

3.Bagi orang yang mempunyai masalah (problem) keuangan, solusi yang hasilnya langsung/instan adalah dengan mengurangi pengeluaran. Kadang-kadang Ustadz Felix tidak habis pikir dengan orang yang meminjam uang ke orang lain. Alasannya karena anaknya belum bisa bayar uang sekolah. Menurut mindset-nya Ustadz Felix kalau memang tidak mampu, ya jangan dipaksa. Kalau hal ini terjadi pada Ustadz Felix, maka Ustadz Felix akan bilang ke anaknya untuk tidak sekolah, karena Ustadz Felix tidak mampu untuk bayar sekolah anaknya. Ustadz Felix tidak akan datang ke orang lain untuk pinjam uang, karena Ustadz Felix tidak mau menyusahkan orang lain. Mengurangi pengeluaran ini penting.

4.Tidak dosa kalau kita tidak bisa menyekolahkan anak. Di dalam Agama Islam yang wajib itu mendidik anak, bukan menyekolahkan anak. Mendidik anak itu boleh jalurnya dengan cara menyekolahkan, tapi bukan sekolahnya yang wajib. Kalau kita tidak mampu menyekolahkan anak, maka bisa kita didik sendiri. Seringkali yang menjadi masalah adalah orang tua mencoba untuk mempertahankan anaknya bisa sekolah di sekolah tertentu. Itu yang menghabiskan uang. Padahal ada sekolah yang lebih murah.

5.Rasulullah  bersabda, “Kemuliaan itu ada pada ilmu, sementara kehormatan itu ada pada harta.“  Artinya seseorang itu bisa menjadi orang yang mulia karena dia banyak ilmu, tapi dia menjadi tidak terhormat karena tidak bisa handle harta atau uang. Jadi kehormatan itu ada pada harta, sedangkan kemuliaan itu ada pada ilmu. Orang dengan ilmu itu bisa mulia, tapi belum tentu terhormat. Orang kaya itu terhormat, tapi belum tentu mulia.

6.Rasulullah  bersabda, “Halal kehormatan seseorang, ketika ia meminjam uang orang lain.“ Makanya kita lihat sekarang ini kalau ada orang yang pinjam uang orang lain itu bisa sampai dimaki-maki. Seolah-olah orang itu seperti tidak punya kehormatan, walaupun dia seorang ustadz misalnya. Kita bisa jadi less respect sama orang itu.

7.Apa bedanya terhormat dengan mulia? Terhormat itu adalah dia dipandang, sedangkan kemuliaan itu dia memesona. Ilmu itu membuat orang menjadi mulia. Contoh: Pada saat kita bertemu dengan seorang ustadz, maka dia mulia, maka kita khidmat dan senang ke dia. Tapi belum tentu dia terhormat kalau dia tidak amanah dalam mengelola harta. Kalau ada orang kaya, maka dia terhormat, tapi belum tentu mulia, karena kalau dia tidak punya ilmu, maka dia tidak mulia. Contoh: Para koruptor. Kalau kita tidak punya harta dan juga tidak punya ilmu, tapi tidak pernah minta-minta kepada orang lain, maka dia tetap terhormat, walaupun kehormatannya rendah, tapi dia tidak mulia.

8.Untuk mengurangi pengeluaran kita bisa menjual aset yang dimiliki. Contoh: Kita tidak perlu tinggal di rumah yang mewah. Rumah itu bisa dijual untuk mengurangi pengeluaran. Lalu uang hasil penjualannya dipakai untuk kontrak rumah. Kontrak rumah juga bisa standarnya diturunkan. Intinya kita harus melakukan segala sesuatu untuk memangkas pengeluaran. Kalau ada barang yang masih bisa dijual, maka dijual, lalu diganti dengan barang yang lebih murah. Kita harus strict banget dalam mengurangi pengeluaran. Ustadz Felix suka kesal (gedeg) dengan orang yang minta-minta di Instagram. Contoh: Tolong saya…….  Padahal orang itu masih punya paket data internet. Dia juga masih punya 2 tangan yang dapat digunakan untuk berusaha. Berusahalah, pasti bisa.

9.Menambah pemasukan (to be vs to have). To have itu liability, sedangkan to be itu asset. Kalau to be itu lebih kepada skill atau investasi pada sesuatu. Sedangkan to have itu jadi beban (liability). Setiap barang yang kita beli itu adalah beban. Contoh: Beli mobil, motor, iPhone itu beban. Ini akan terus-menerus membebani kita. Semakin mahal iPhone-nya, maka semakin besar beban kita. Karena kita jadi harus beli case-nya yang mahal. Beli handphone itu beban karena harus diisi pulsa/paket data terus. Membeli suatu barang itu karena ada tujuan yang mau kita achieve. Kita mau jadi kayak apa. Kita mau buat program apa. Jadi bukan karena barangnya doang.

10.To be itu menumbuhkan sedangkan to have itu membuat jadi beban. Saran Ustadz Felix bagi orang-orang yang mengalami kesulitan keuangan, maka mereka harus tahu cara untuk menaikkan pendapatan. Kita perlu membuat target mau mendapatkan uang berapa. Contoh: Agar kondisi finansial sehat, maka keluarga dengan 2 anak cukupnya itu sekitar 4 juta. Maka buat target dengan cara melihat apa yang dilakukan oleh orang yang gajinya atau penghasilannya 4 juta. Ternyata itu adalah gaji pekerja adminstrasi biasa. Maka orang itu harus belajar agar bisa menjadikan dirinya seperti pekerja administrasi itu. Oleh karena itu perlu menaikan valensi yang dimiliki.

11.Kalau seseorang itu to be nya lebih dari to have nya maka asetnya akan lebih banyak daripada liabilitasnya. Inilah mindset orang kaya. Bisa jadi orang ini kelihatan tidak punya apa-apa tapi dia selalu menumpuk to be nya, maka tinggal tunggu waktu dia akan punya kehidupan finansial yang sehat. Sebaliknya orang kaya yang tidak pernah invest pada to be, lalu kemudian dia to have terus (belanja terus), maka tinggal tunggu waktu. Saat resource-nya mampet, maka to have itu akan membebani dia sampai bangkrut. Contoh: Awalnya dia punya motor 10, tapi akhirnya harus dijual dengan harga yang rendah. Dia juga harus membiayai maintenance rumah yang besar.

12.Boleh atau tidak kita berhutang? Hutang produktif vs hutang konsumtif. Hutang produktif adalah hutang yang bisa untuk menghasilkan sesuatu, dengan risk yang serendah-rendahnya. Hutang konsumtif adalah semua hutang yang menambah liability (to have)Ada lagi hutang yang wajib (hutang daruri), yaitu kalau dia tidak hutang, maka akan mati. Contoh: Hutang untuk membeli makanan. Kalau hutang yang konsumtif itu tidak boleh. Mendingan tidak usah hutang sama sekali. Bapaknya Ustadz Felix mengatakan, “Orang yang pinjam uang orang lain itu bodoh. Orang yang minjemin, lebih bodoh.“ Kenapa? Karena seringkali kalau kita bicara tentang hutang, banyak orang-orang yang dulunya temenan, jadi tidak temenan lagi gara-gara hutang. Bahkan ada guru dengan murid, orang tua dengan anaknya, sesama saudara, yang hubungannya jadi hancur karena hutang konsumtif.

13.Hutang konsumtif itu pasti akan merusak. Contoh: Seorang teman berkata, “Bro, bisa pinajm 500 juta ngak, aku mau beli mobil baru. Tahun depan nanti aku kembaliin deh.” Ternyata setelah beli mobil itu, teman tersebut pergi ke luar negeri, tapi belum bayar hutangnya yang sudah jatuh tempo. Apa yang akan dipikirkan  oleh orang yang meminjamkan uang?

14.Hutang itu akan mencapai manfaatnya saat seseorang lagi butuh, tapi saat orang itu sudah tidak perlu lagi, maka akan menurun manfaatnya. Contoh: Ada orang yang meminjam uang 500 juta. Pada saat orang itu mendapatkan uang 500 juta, sebenarnya uang itu bukan hak dia. Mindset financial-nya seharusnya itu bukan hak dia. Tapi hak nya orang yang dia pinjam uangnya. Akan tetapi dia merasa uang itu milik dia, sehingga ia boleh untuk membelanjakan uang itu. Di situ masalahnya. Kalau pinjam uang ke orang lain, maka mbok ya makannya jangan berlebihan. Makannya jangan di restoran, atau makan makanan yang mewah. Karena nanti orang-orang akan lihat. Kok bisa-bisanya. Ini orang yang tidak matang secara finansial.

15.Tahu diri adalah sebuah pelajaran yang sulit. Karena orang yang problem-nya hutang konsumtif, maka hidupnya akan sulit sekali. Kecuali kalau hutang nya adalah hutang darurat (daruri). Contoh: Hutang karena tidak bisa makan. Maka orang lain akan dengan senang hati bukan hanya meminjamkan, malah akan di kasih. Di ikhlas kan saja. Kalau untuk keperluan ini Ustadz Felix lebih baik kasih saja, daripada memberi hutang. Kenapa? Karena kalau memberi hutang bisa berpotensi ada masalah dengan saudara (masalah hubungan kekeluargaan). Masalah dalam ukhuwah. Selama ini Ustadz Felix tidak pernah hutang untuk pribadi, kecuali hutang yang tidak disadari. Contoh: Pinjam uang untuk bayar parkir, lalu lupa. Hal ini karena dompet Ustadz Felix tidak ada isi uangnya. Se-susah apapun, selama hidup Ustadz Felix tidak pernah hutang kepada orang lain, karena mendingan lapar daripada hutang ke orang lain.

16.Orang cina mempunyai prinsip: jangan membeli sesuatu barang, kecuali kalau punya uang 50X lipat dari nilai barang yang mau dibeli. Tapi Ustadz Felix sekarang tidak seperti itu. Kalau untuk keperluan dakwah, maka uang itu hanyalah sebuah angka. Cuma angka-angka yang berubah di HP. Kalau angkanya 0, ya ngak bisa diambil uangnya. Tapi kalau ada, ya sudah selesai urusannya. Contoh: Untuk keperluan dakwah Ustadz Felix pernah membeli tanah dan hutang karena hanya bisa membayar separuhnya. Hal ini disetujui oleh yang menjual tanah. Ustadz Felix yakin, kalau untuk keperluan dakwah, insya Allah akan bisa membayar hutang nya. Karena tahu potensi yang dimiliki, dan kemampuannya untuk menghasilkan uang. Tapi kalau masalah anaknya tidak bisa sekolah, atau keluarganya tidak bisa makan, maka lebih baik Ustadz Felix akan jual rumah atau mobilnya. Lalu berusahalah untuk hidup sesuai dengan kemampuan.

17.Jadikan uang sebagai babu atau kita akan jadi babu nya uang. Kalau kita tidak bisa menjadikan uang sebagai babu, maka kita akan dijadikan babu oleh uang. Uang itu hanya lah sesuatu yang perlu kita letakkan di tempat dimana dia bisa bekerja yang terbaik untuk kita. Ustadz Felix sering berkata kepada orang-orang kaya, kalau mereka itu punya uang, mbok ya bisa memberikan yang maksimal buat dakwah. Contoh: Membelikan kamera untuk orang yang perlu  dan bisa memaksimalkan nya untuk dakwah, jangan untuk orang yang tidak perlu. 

18.Bagaimana cara untuk tahu kita perlu atau tidak suatu barang? Kalau Ustadz Felix, cara yang pertama dengan memasukkan barang yang dianggap perlu ke keranjang belanja di marketplace selama beberapa waktu, tapi tidak di check out. Cara kedua, dengan pinjam dulu sama orang lain. Misalnya Ustadz Felix pinjam tab-nya Ustadz Weemar, ipad nya Fuad Naim untuk tahu sebenarnya beliau perlu atau tidak untuk beli tablets. Jadi sebelum membeli suatu barang dipikirkan dulu untuk apa kita mau membeli barang tersebut. Harta ini harus bekerja untuk kita, bukan kita dikerjai oleh harta.

19.Allah sudah menakar rezeki seseorang. Ada yang di kasih kaya, dan ada yang di kasih cukup. Seharusnya di dunia ini tidak ada yang susah. Tapi kok ada orang miskin? Kok ada negara yang berada dalam garis kemiskinan (poverty)? Kenapa kemiskinan bisa merajalela? Ini karena salah kita tidak bisa mengoptimalkan yang banyak dan yang cukup. Hal ini juga bis terjadi karena kesalahan dalam menerapkan sistem ekonomi, dimana tidak terjadi distribusi yang merata. Sadarilah kalau kita berada di suatu kondisi yang seharusnya tidak bermasalah, dimana kita masih merasa kurang, maka itu tandanya kita salah dalam mengelola yang cukup. Hal ini terjadi karena ada banyak pengeluaran yang tidak perlu. Maka pengeluaran yang tidak perlu itu harus di pangkas. Ini harus dilihat satu-satu, mana yang perlu dan mana yang tidak perlu. Ini biasanya karena hawa nafsu. Mahatma Gandhi berkata, “Dunia ini cukup untuk semua orang, tapi tidak cukup untuk memenuhi satu mulut orang yang serakah.“

20.Kita perlu mempunyai tips and tricks untuk mengendalikan hawa nafsu. Kalau Ustadz Felix dengan cara check in barang di marketplace tapi barangnya tidak dibeli. Jangan sampai sesuatu yang sebenarnya kita tidak perlu tapi dibeli, sehingga hidupnya jadi tidak bahagia.

21.Kaya dan miskin itu juga immateriil. Orang itu bisa merasa kaya atau merasa miskin, tergantung apa yang menjadi mindset-nya dia. Kalau mindset-nya salah, seberapa pun banyaknya uang yang dimiliki, ia akan tetap merasa kurang. Secukup apapun yang diberikan oleh Allah dia akan bersyukur, kalau mindset-nya benar. Berarti yang penting ini adalah bagaimana cara dia memandang, dengan mental kaya atau mental miskin. Karena ada banyak orang kaya yang mentalnya miskin, dan banyak orang-orang miskin yang mentalnya kaya.

22.Yang penting itu kita itu mau apa di dunia ini. Kalau tujuannya untuk dakwah, maka Allah akan mencukupkan semuanya. Pasti Allah akan mencukupkan, yakin lah. Semua permintaan Ustadz Felix di dalam dakwah tidak ada satu pun yang tidak dicukupkan oleh Allah. Masalahnya sekarang banyak orang yang to have-nya sudah ada (punya barang) tapi to be-nya ngak ada (ngak tahu barangnya mau dipakai buat apa). Kalau hal ini terjadi pada orang kaya tidak apa-apa, karena bisa jadi wasilah untuk kebaikan (misalkan dengan di sedekah kan).

23.Apakah salah punya mindset punya uang banyak dan nantinya untuk bantu umat muslim dan ngak hanya cari pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan saja? Kalau pertanyaannya seperti ini, maka orang yang bertanya sudah terjebak dengan mindset yang salah. Karena seakan-akan kita tidak bisa membantu umat kalau kita tidak punya uang yang banyak. Ia berpikir materi itu yang menyebabkan bahagia. Membantu orang lain itu tidak harus dengan cara memenuhi kebutuhan materi orang tersebut. Maka seharusnya pertanyaannya diubah: Apakah salah kalau saya ingin jadi kaya supaya bisa memanfaatkan kekayaan saya untuk agama Allah? Kalau pertanyaannya seperti ini, maka jawabannya boleh. Tapi kalau dari miskin kita tidak banyak support Islam, maka saat kaya pun kita juga tidak akan banyak support Islam.

24.Uang tidak akan bisa mengubah seseorang. Uang cuma akan menunjukkan sifat aslinya orang itu kayak apa. Jadi bohong kalau ada orang yang bilang nanti kalau saya kaya, saya akan begini dan begini. Kalau memang ingin menolong agama Islam sebenarnya bisa dari sekarang. Kalau kita sudah berjanji sama Allah, jika punya uang sekian akan digunakan untuk membantu agama Allah, maka jangan tergoda untuk mundur. Karena tidak ada orang yang menjamin saat kita punya uang banyak tidak bisa diambil lagi oleh Allah.

25.Sebelum memiliki suatu barang, maka kita harus punya mindset yang betul. Maka ketika nanti kita punya barangnya, maka kita akan bisa menggunakannya dengan benar. Kita harus punya jawaban sebelum mengajukan permintaan kepada Allah. Kenapa barang itu harus ada di kita? Karena kalau Allah kasih ke kita, maka kita sudah punya list nya barang itu akan digunakan untuk apa saja di jalan kebaikan. Ini adalah proposal kita kepada Allah. Contoh: “Ya Allah, kalau kamera itu ada di aku, maka akan jadi ini, ini, dan ini.“

26.Ada orang yang menginginkan posisi to have tapi di kasih topeng to be. Contoh: Dia bilang ingin jadi ustadz. Sementara di kepala dia mau jadi ustadz supaya terkenal (famous). Supaya di support oleh jamaah. Materi itu hanya bisa ngasih segitu saja. Kebanyakan orang dikendalikan oleh barang (materi). Mereka tidak bisa menekan (supress) keinginan nya sendiri. Sehingga ia merasa hidupnya tidak akan sempurna kalau dia tidak memiliki barang-barang itu.

27.KesimpulanKalau kita tidak punya visi dakwah, maka kita akan senantiasa menjadi budak dari dunia. Ketika punya uang tidak tahu mau dikemanakan uangnya. Tidak bisa menekan keinginan kita. Tidak bisa memprioritaskan sesuatu di dalam kehidupan kita. Maka visi dakwah itu penting sekali. Mau kemana kita di dunia ini. Apa yang kita cari di dunia? Apa yang ingin kita dapatkan di dunia? Itu yang harus kita pikirkan, baru nanti kita tahu mana yang harus diprioritaskan. Kalau untuk keperluan dakwah jangan hitung-hitungan. Kalau untuk kenikmatan pribadi,maka tunggu dulu.

28.Dunia itu seperti bayangan. Ketika kita fokus pada bayangan dan mengejar bayangan, maka dia akan lari. Maka fokuslah pada tujuan, itu seperti fokus pada cahaya matahari. Kalau kita fokus pada cahaya, maka bayangan yang akan mengikuti kita.

30 Jul 2023

Infinity Life

Dear Diary,

Today has been a day of introspection and reflection on the concept of Infinity Life. Life is indeed filled with countless resources that aid us in living our journey to the fullest. There are times when I find myself engaged in battles with others, whether it be in competitions or conflicts, and I feel weak in comparison. But I have come to realize that losing such battles does not define my worth. Instead, I must focus on doing my best in every situation, and the outcome will be accounted for by my deeds alone.

In this journey, I have been blessed with an abundance of provisions, and I must learn not to worry about my rizq, my sustenance. Trusting in the divine plan, I will work hard and do my best deeds, knowing that it is my actions that will shape my destiny.

I have also come to understand the futility of jealousy. It serves no purpose to be envious of those who seem to have more than me. Each of us has our unique path, and comparison only leads to unnecessary discontent. Instead, I choose to focus on self-improvement and strive to become better with each passing day.

I realize that the true battle lies within myself. It is a constant journey of self-discovery, growth, and improvement. I am not here to fight with others but to challenge myself to be the best version of me.

As I go through this life, I am reminded to hold the material world (dunya) in my hands, knowing that its possessions are temporary and fleeting. Yet, I must keep my gaze fixed on the eternal (akhira) in my heart, where true meaning and purpose lie. By doing so, I can detach myself from the burdens of this world and find peace within.

Today's contemplation has left me feeling grateful for the blessings in my life and motivated to live each day with purpose. I will continue striving to be a better person than I was yesterday, taking life's challenges as opportunities for growth. May I remember to be kind to myself and to others, always keeping the infinity of life in mind.


With love and hope,

Me






make peace

Dear Diary,

Today, I find solace in the realization that it's okay to encounter problems in this world. I understand that no place or situation can be entirely ideal for anyone. As I get to know people better, I discover that they too face their share of struggles, much like mine.

I've come to understand that if I don't give in to the hardships of this world, it becomes easier to navigate. I won't lose hope or weaken my resolve. I will keep my hope shining brightly, knowing that everything will be alright as long as I have Him by my side.

To begin this journey, I must constantly look within my heart. It is from there that I can find the strength to face challenges, and also where my determination may falter at times. I acknowledge that there might be a gap between my expectations and reality, but that's alright; it's part of life's journey.

Right now, I feel like I'm on a small peak of the mountain, and every second counts as I strive to make progress. I have faith in myself, Diary. I believe that I can overcome the hurdles that come my way.

Thank you, Diary, for being a place where I can pour out my thoughts and feelings. Writing these words has brought me comfort and encouragement, reminding me to keep pushing forward.

With love and determination, 

12 Jul 2023

Dinamika Kehidupan

 Sadarkah kita bahwa hidup ini memiliki dinamika? Datang ujian, kemudian kita berdoa dan berikhtiar, turunlah pertolongan Allah, dan kita mengalami masa lapang. Lalu, ujian datang lagi, kita berdoa dan berikhtiar lagi, turunlah pertolongan Allah, dan hati kita kembali lapang. Begituu seterusnya. Kalau digambarkan, itu seperti lingkaran yang terus berputar.

Setiap manusia pasti pernah berada di fase ujian. Entah bagaimana bentuk dan kadar ujiannya. Kita pasti pernah mengalami masa itu, masa dimana kesedihan atau kegalauan hadir menghampiri. Rasa sedih atau galau wajar karena kita adalah manusia, tetapi kita juga punya iman yang membuat kita tidak terlarut dalam perasaan tersebut. Kita tidak terlampau sedih karena kita punya Allah. Dan kita yakin, setiap ujian yang hadir pasti sepaket dengan solusinya.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS. Al-Insyirah : 6)

Setelah itu, kita mulai masuk pada fase berdoa dan berikhtiar agar menemukan jalan keluar. Kita memohon pertolongan Allah agar dikuatkan dan disabarkan hatinya. Kita yakin bahwa Allah pasti memiliki makna dari setiap ujian yang kita hadapi.

Lambat laut maka turunlah pertolongan Allah. Karena Kemahabesaran-Nya, kita mampu menghadapi ujian tersebut. Kalau istilah yang biasa saya gunakan adalah kita menang dan naik kelas.

Bila kita berhasil menang dan naik kelas, maka muncullah masa lapang. Masa dimana hati kita mampu berdamai. Kita tidak menghindar dan melupakan, tetapi benar-benar menerima segala ketetapan-Nya. Bagi orang beriman, di masa ini ia bersyukur dan tidak akan sombong. Ia paham bahwa setelah masa lapang akan datang kembali fase ujian. Orang beriman akan bersiap untuk ujian berikutnya.

Wallahu a’lam bishawab

***

Sedang berada di fase manapun kita, semoga hati kita senantiasa terkoneksi baik dengan Allah. Agar bila sewaktu-waktu ujian datang, kita mampu melaluinya dengan kesabaran dan kekuatan yang tentunya tidak terlepas dari pertolongan Allah.

Wanita Berpendidikan

 Notulensi Bincang-Bincang Hijab Alila dengan Mba Dewi Nur Aisyah

Kalau kita mau lanjut studi ke luar negeri, ada dua hal yang harus kita renungkan terlebih dahulu:

  1. Apa jurusan yang mau kita ambil?
  2. Apa niat kita lanjut studi ke luar negeri?

Jurusan studi yang mau kita ambil, membantu kita menentukan negara/kampus tujuan. Kita lanjut studi ke luar negeri untuk mencari ilmu dari sumber terbaiknya. Misalnya belajar Agama Islam bisa ke Mekkah, Madinah, atau Mesir; belajar Teknik Kimia bisa ke Jerman; dst karena memang disanalah pusat ilmu tersebut.

“Segala amalan tergantung dari niatnya”. Semua orang nantinya akan bertemu dengan apa yang ia cari/niatkan. Tujuan lanjut studi ke luar negeri untuk mencari ilmu dari sumber terbaik ilmu tersebut dan selanjutnya memberikan kemaslahatan bagi sekitar.

Kondisi idealnya, perempuan berangkat studi ke luar negeri dengan mahramnya. Namun kalau belum bisa, bisa mencari teman yang sama-sama ingin kuliah di luar negeri. Sharing tempat tinggal dengan sesama muslim dan cari lingkungan yang baik. Pastikan sebelum berangkat, landasan akidah kita sudah kuat.

Saat studi di negara yang muslimnya adalah minoritas, otomatis tidak akan ada yang mengingatkan kita untuk sholat lima waktu. Di negara-negara empat musim, jadwal sholat seringkali berubah sehingga kita yang harus selalu mengecek jadwal sholat. Kita dapat menjaga waktu sholat dengan kemauan dan kedisiplinan. Pesannya, pertahankanlah taqwa dimanapun kita berada. Hal yang umum terjadi biasanya terkait makanan halal dan haram. Pastikan apa-apa yang kita makan adalah halal dan baik; seperti disembelih dengan basmallah, proses masak menggunakan semua bahan halal, dsb. Kalau ragu, pilih makanan yang vegetarian.

Allah yang akan memampukan kita atas segala keterbatasan kita. Sebagai manusia kita mempunyai doa, biarkan Allah yang kemudian memberikan skenario terbaik untuk kita.

Tips mengatur waktu/mengemban setiap amanah (pelajar, istri, dan ibu) dengan baik:

  1. Carilah pasangan yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita; sehingga kalau bergerak, keduanya sama-sama ke arah yang sama (searah).
  2. Menjadikan pasangan sebagai ‘partner tektok’; dalam artinya saling bekerja sama, membantu, dan memahami. Mba Dewi dan suami mempunyai Family Calender, dimana berisi seluruh jadwal Mba Dewi dan suami. Kalau suami jadwal ke kampus, Mba Dewi di rumah menjaga anak, dan begitupula sebaliknya. Kalau ingin membuat janji pun, lihat dulu Family Calender.
  3. Siap lebih lelah; karena hasil berbanding lurus dengan usaha. Kalau kita ingin hasil yang besar, effort yang dikeluarkan juga besar.
  4. Melibatkan Allah dalam setiap proses.

Dan perlu dipahami, bahwa selalu ada yang pertama kali untuk apapun yang kita lakukan. Jadi, trial & error diawal wajar dan kita senantiasa belajar.

Cara berdakwah di negara minoritas muslim?

  1. Yang paling sederhana, tetapi paling ‘ngena’ adalah kita menjadi contoh/teladan dengan akhlak yang baik; bekerja secara profesional, memiliki etos kerja yang tinggi, tidak memandang sinis orang lain, dsb.
  2. Bergabung dengan organisasi/komunitas/perkumpulan muslim disana; berjama’ahtidak sendirian.

Pastikan kembali bahwa setiap apapun yang kita lakukan niat dan tujuannya adalah karena Allah SWT. Saling mengingatkan satu sama lain, “Ladang amal apa lagi yang bisa kita garap di dunia?” Karena kita tidak pernah tahu sampai berapa umur kita. Jangan sampai kita masih disini-sini saja, sedangkan orang lain sudah jauh memberi banyak arti dan mengumpulkan pahala daripada kita.

Tambahan tips parenting:

  • Prinsip sebelum mengajarkan anak membaca, menulis, atau menghitung adalah membangun akidah terlebih dahulu. Megenalkan Allah, rasul-Nya, dan bahwa kita adalah hamba yang harus senantiasa berada dalam koridor-Nya. “Akidah, Akidah, Akidah, Akhlak”Membangun akidah pada anak bukan perkara yang mudah sehingga sampai dulang tiga kali oleh Mba Dewi. Membangun akidah adalah hal yang paling mendasar dan penting yang lebih dulu diajarkan pada anak.
  • Jangan pernah malu untuk minta maaf kepada anak. Misalnya kita pulang terlambat atau lupa akan suatu hal. Anak perlu tahu kita menyesal dan menghargai janji yang telah dibuat.
  • Kalau anak melontarkan pertanyaan yang belum kita ketahui jawabannya, jawablah kalau kita memang tidak tahu dan akan mencari tahu jawabannya nanti. Jadikan itu PR dan benar-benar kita cari tahu jawabannya.