Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2023

A Letter To My Teenage Self

 I wish I could take your hand and show you the way through the darkness that hovers at the edge of your peripheral. I wish I could tell you it leaves but my god, it doesn't. It stays. And I don't tell you this to frighten you or to take away that slither of hope you cradle so very close to your heart. I tell you because the day comes when you don't feel like your overflowing, ever-changing emotions are a burden. They feel less like a curse and more like a blessing. I tell you this because I want you to know that your courage to keep going is inspiring and your strength admirable and you're going to learn how to balance it. All of it. The scales won't feel so heavily tipped. Your heart won't feel so heavy. If your rebellious, stubborn, sensitive self refuses to read this any further, then know this: keep going. Just keep going. It's going to work out. It's going to be okay. We're going to be okay, kid. It doesn't happen for a while but you get th...

Keep Your Motivation on Your Mind

Internal and external motivators are great ways to fuel the productivity and commitment required for following through. But they won’t do anything for you if they are out of sight and out of mind.  According to Psychological Science, people are more inclined to follow through if they are exposed to stimuli that remind them of their motivators. Seeing or hearing their motivators can drive them to maintain motivation. In other words, sometimes the simplest solutions work best: constant reminders will keep you on track because our minds can only fixate on so many things.  Additionally, Katherine Milkman of the University of Pennsylvania developed the hypothesis that reminders through association could aid people in remembering goals and following through with them. To confirm this hypothesis, she conducted a study whose participants were asked to complete an hour-long computer task. They were promised compensation as well as a dollar donated to the local food bank. They were aske...

It's okay not to be okay in islamic perceptions

Gambar
  People run away from feeling sadness out of fear of being vulnerable. When we look at the strongest people in our history, our prophets, do we not see the sadness they have been through? The trials they have endured, and the tears they have shed - they’re the most vulnerable people who have ever lived, and they’re the most honored and remembered people to exist. When our own Prophet Muhammad ﷺ has endured sadness, who are we to shy away from it? The Quran is a book of sad stories with beautiful endings. And as Muslims, the Quran is there to guide us through that sadness. As soon as one accepts feelings of sadness, then the fear of possibly being sad forever kicks in. You will never be sad forever, you were not created for that. Your sadness will come and go, just as waves that hit a shore come and go. And after at most 100 years or so of being tested in this world, you will have an eternity of contentment, never to experience sadness again. According to research from Dr. Brené Br...

The Giver of the Most Perfect Gifts

 I have my mission to never tire of being a witness to Allah SWT's innumerable blessings. Allah SWT says in the Quran,  " If you tried to count Allah's blessings, you would never be able to number them "  ( Quran 16:18 ) and how true this is! Just before writing this love letter, I did a small activity where I put a 1-minute timer and started listing down some of the blessings in my life, and this is what I came up with in just under 60 seconds:  His Guidance His Beautiful Names This Faith The blessed Quran Rasulullah  ﷺ Duas and Zikirs Solah + Sujuud  My entire family Noor + Khair My companions  The Angels rooting for us Peace and security Time Good health  Books The art / science of Tajwid The capacity to love The abundance of colours, flavours, textures, languages and smells The ability to write, think, speak, and share The curiosity to learn The chance to serve The inclination to forgive The choice to be gentle an...

Cinta pertama manusia

  Menurut Al-Buthi, CINTA PERTAMA MANUSIA telah dijelaskan dalam Al-Quran, yang di dalamnya terjadi dialog antara Allah dan ruh manusia, ketika masih berupa satu hakikat yang utuh di alam rahim. Allah SWT berfirman: "Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman); "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalai terhadap ini." (QS.Al-A'raf:172) Ayat di atas adalah perjanjian cinta antara Allah dan manusia ketika masih berada di alam ruh/alam rahim. Ketika Allah bertanya, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Lalu, ruh kita bersaksi mengakui Tuhan. Di sinilah pengakuan cinta kepada Allah dalam ruh kita, cinta yang paling murni. Cinta murni ini hanya terjadi antara ruh kepada Allah, bukan cinta ...

Surat Cinta yang Tak Romantis

Kau pernah dapat surat cinta tidak? Bagaimana rasanya? bahkan ada namamu tertulis di depannya. Pasti bahagia luar biasa. Apa isinya? Kutebak pasti hal-hal manis seperti irama degup jantung karena mendengar namamu. Atau Lengkungan bulan sabit yang tiba-tiba terbit setiap melihat senyummu. Atau sengatan listrik 1000 watt saat menggenggam tanganmu. Ya... ya... silakan diteruskan. Omong-omong pernahkah terpikir bagaimana isi surat cinta yang diturunkan Allah untuk kekasih-Nya? Ya, nama kekasih-Nya hingga kini terukir abadi dalam Al-Qur'an: Muhammad. Namun aneh, isinya sama sekali tak manis. Tercium amis darah, percikan api dari kuda yang berlari kencang, kilatan pedang yang menghunus, bahkan bau busuk dari para pembangkang yang sombong! Surat cinta-Nya malah berisi perihal peperangan. Aneh? Tunggu dulu, tak hanya itu. Bahkan seluruh percakapan antara dua kekasih Pencipta dan makhluknya masih juga tak bermekaran bunga. "Sungguh kawanmu Muhammad tidak gila." Jangan bersedih ...

Mengeja Kelelahan

  Hal yang paling menarik dari sebuah kegemilangan seseorang adalah proses panjang di baliknya. Kalau hanya mendengar prestasinya saja mungkin kita akan iri dan berharap menjadi sepertinya. Tapi tunggu dulu, saat kau dengar proses penempaannya hingga ia menjadi permata, mungkin kau tidak akan pernah berharap menjadi sepertinya. Kita hanya melihat Khabib Nurmagomedov dengan gagahnya berdiri di podium kemenangan, disambut ribuan tepuk tangan, dan sorot lampu kemilau, sambil mengacungkan telunjuknya ke langit. Tapi kita tak pernah tahu bagaimana latihan gilanya bergulat dengan beruang. Berapa kali ia menahan sakitnya tindihan beruang? Berapa kali la bertengkar dengan ayahnya karena malas berlatih ke tengah hutan? Berapa kali kulitnya terluka akibat cakaran beruang? Berapa kali ototnya cedera? Patah tulang? Dan keperihan lainnya. Kalau begitu, bagaimanalah seorang Khalid bin Walid ra menempa dirinya, hingga ia dinobatkan menjadi Pedang Allah yang Terhunus? Atau penulis, Shadiq Ibrahim ...

 Surat untuk Bunda Khadijah ra

Assalamualaikum... Salam hormat bagimu, duhai wanita terbaik sepanjang zaman. Hari ini... akhirnya kami tahu rasanya hidup di zaman. yang gelap, lebih pekat dari kepingan malam. Ternyata begini rasanya. Bunda Khadijah, maaf telah banyak mengecewakanmu. Hari ini, banyak perempuan yang tega membunuh bayi-bayi tak berdosa. Tak memandang laki-laki dan perempuan, sebelum lahir pun, muka ibu dan ayah sudah merah padam. Bunda, maafkan kami yang belum mampu mengamalkan Al Qur'an. Hari ini, para perempuan rela membunuh calon bayi mereka. Janin mungil merah, yang baru saja berdegup jan tungnya, luruh jadi onggokan daging hancur. Dilempar ke tempat sampah, lalu dilupakan begitu saja. Bunda Khadijah, maafkan kami sudah lalai menjaga kehormatan dan kesucian para muslimah. Hari ini, perzinahan dianggap permainan dan hiburan. Perempuan dan lelaki saling menyalurkan hasratnya seperti binatang. Seakan-akan tak malu dan tak takut pada Allah, mereka mendatangi sesama perempuan atau lelaki, atau kedua...

Solusi dari rasa lelah

 Berpeluh dalam Kebaikan Percaya enggak? Satu pintu kebaikan akan menuntun kita pada pintu kebaikan lainnya yang lebih besar. Pertanyaannya, seberapa sabar dan kuat kita membuka pintu demi pintu kebaikan itu? Karena sudah jadi kepastian, tak ada kebaikan tanpa kesu litan. Maka, seberapa tangguh kita bertahan di sana? Begitulah, Hidayah tak bisa langsung besar. la seperti anak tangga yang harus ditapaki setapak demi setapak hingga kita sampai puncak. Kalau hari ini turun tiga anak tangga, pastikan esok kita daki lima anak tangga. Agar pantas Allah beri kita hidayah-hidayah besar! Seseorang yang Allah izinkan salat di sepertiga malam, tak bisa langsung bangun begitu saja. Usahanya panjang! Saat siang ia harus menutup pintu-pintu maksiat. Harus mendekat pada Allah dengan Al-Qur'an, salat-salat sunnah, zikir, dan ibadah lainnya. Barulah, Allah berikan hidayah padanya berupa salat malam. Begitu juga para Assabiqunal Awaalun. Mereka tercatat punya usaha keras untuk bisa Allah izinkan men...

Solusi dari pikiran yang takut gagal

 Saat Takut Gagal Saat langkahmu terhenti karena menemukan kegagalan, ingatlah... Bukankah Khadijah binti Khuwailid ra. tak gagal saat ia wafat, padahal Islam belum ke mana-mana, bahkan Nabi Muhammad SAW masih jadi bulan-bulanan seisi kota. Abdullah bin Rawahah ra. tak gagal, saat ia jatuhkan panji Rasulullah di perang Mu'tah. Abu Ayub Al Anshari ra. tak gagal, saat di umur 90 tahun, ia kalah dalam pembebasan Konstatinopel, ratusan tahun sebelum dibebaskan pemuda berumur 21 tahun. Begitu juga dengan kegagalan kita hari ini. Mungkin ada target, rencana, dan mimpi-mimpi kebaikan, yang sudah kita usahakan sepenuh hati, tapi hasilnya tak sesuai ekspektasi. Jangan dulu berhenti, menyerah, mundur, apalagi tak mau bangkit lagi. Selama kita sudah mengusahakan yang terbaik, percayalah, para pejuang kebaikan akan tetap menjadi pemenang. Tak ada yang gagal dalam memperjuangkan kebaikan. Jasa para pejuang kebaikan tak terkira, menjadi salah satu anak tangga emas menuju kemenangan. Mereka yang ...

Dari Palestina kita belajar

By teh qoonit https://youtu.be/oZ0mXanBSUM  Dari Palestina kita belajar untuk tetap berani bermimpi tinggi, walau bahkan kebutuhan dasar tak terpenuhi. untuk menegakkan yang benar, walau harus terancam mati berkali-kali. untuk tetap lantang bersuara, walau dibungkam bahkan dijatuhkan oleh propaganda kelas dunia. untuk selalu bersabar, walau rasanya badai kehidupan menghempas tak berkesudahan. untuk selalu bangkit, walau harapan dihancurkan, kesempatan dilenyapkan, usaha digagalkan. untuk percaya diri, bahwa pertolongan Allah pasti melindungi, walau kuatnya musuh sering menciutkan nyali. untuk terus bergerak, berlari, berjuang, bukan untuk harumnya nama diri, namun hanya berharap Allah matikan dalam perjuangan suci. Dari Palestina kita belajar untuk menanti-nati, bukan..bukan kilau dunia yang jadi ambisi, tapi mengharap pertemuan dengan Allah di Surga tertinggi..

Enjoy your process

 Mungkin telah begitu banyak cobaan yang menimpamu. bukan untuk membuatmu jatuh tapi justru membentukmu menjadi lebih indah. Jikalau banyak kehilangan itu tidak terjadi, mungkin engkau takkan bisa belajar akan arti ikhlas dan sabar. Jikalau kesedihan itu tidak pernah hadir, mungkin engkau tak bisa belajar untuk kuat dan tabah. Maka perihal apa yang telah berlalu, anggap saja hal itu telah membentukmu menjadi lebih baik. Seperti kupu-kupu yang butuh proses untuk mengepakkan sayup dan terbang.