Tampilkan postingan dengan label Lelah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lelah. Tampilkan semua postingan

17 Mei 2023

Mengeja Kelelahan

 

Hal yang paling menarik dari sebuah kegemilangan seseorang adalah proses panjang di baliknya. Kalau hanya mendengar prestasinya saja mungkin kita akan iri dan berharap menjadi sepertinya. Tapi tunggu dulu, saat kau dengar proses penempaannya hingga ia menjadi permata, mungkin kau tidak akan pernah berharap menjadi sepertinya.

Kita hanya melihat Khabib Nurmagomedov dengan gagahnya berdiri di podium kemenangan, disambut ribuan tepuk tangan, dan sorot lampu kemilau, sambil mengacungkan telunjuknya ke langit.

Tapi kita tak pernah tahu bagaimana latihan gilanya bergulat dengan beruang. Berapa kali ia menahan sakitnya tindihan beruang? Berapa kali la bertengkar dengan ayahnya karena malas berlatih ke tengah hutan? Berapa kali kulitnya terluka akibat cakaran beruang? Berapa kali ototnya cedera? Patah tulang? Dan keperihan lainnya.

Kalau begitu, bagaimanalah seorang Khalid bin Walid ra menempa dirinya, hingga ia dinobatkan menjadi Pedang Allah yang Terhunus? Atau penulis, Shadiq Ibrahim Argoun menyematkan "Legenda Militer" padanya.

Yah, bukan berarti setelah ia diberikan status "Pedang Allah" sekonyong-konyong Khalid langsung tangkas dan jenius dalam militer. Selama manusia masih hidup di bumi, maka tetap berlaku hukum. "Usaha berbanding lurus dengan hasil."

Jadi aku penasaran segila apa Khalid bin Walid ra berlatih pedang, panah, kuda, dan bela diri? Karena pernah dalam perang Mutah tiap posisi Pemanah, Berkuda, dan Penghunus Pedang diputar-putar silih berganti. Ini berarti tiap pasukan muslim harus menguasai semuanya

Aku penasaran bagaimana Khalid ra mempelajari strategi-strategi berperang. Bagaimana ia mengasah instingnya untuk mengambil keputusan jenius dalam kondisi terdesak. Berapa banyak waktu tidur yang ia korbankan untuk berpikir, berkontemplasi, melakukan riset mendalam, spionase, demi menciptakan strategi perang terbaik.

Juga bagaimana penempaan pemanah ulung, Saad bin Abi Waqash ra, yang lesatan panahnya tak pernah meleset. Pasti telah ribuan kali ia berlatih melesatkan anak panah, tanpa kenal lelah.

Kita hanya tak pernah tahu ceritanya saat tangannya penuh darah, ototnya keram, kulitnya terbakar matahari, tangisannya di malam hari karena la tak kunjung mahir, atau ejekan ka wannya karena ia terus berlatih memanah tak kenal waktu.

Yaah, kita memang tidak harus berlatih bergulat dengan beruang, berlatih berperang segila Khalid bin Walid ra, berlatih memanah sekeras Saad bin Abi Waqash ra, tapi kalau kita tarik pada diri masing-masing hari ini. Sudahkah kita melatih potensi diri sekeras mereka? Sudahkah kita memaksimalkan potensi yang Allah berikan dengan sungguh-sungguh?

Potensi yang kelak akan menggaungkan nilai-nilai Islam dan meluaskan kebermanfaatan. Potensi yang kelak akan mele- jitkan derajat kita di sisi-Nya.

Saat kita bilang tidak mampu, jangan-jangan sebenarnya kita hanya tidak mau. Saat kita bilang tidak bisa, jangan-jangan kita hanya belum mencoba dan berlatih sebanyak mereka.

Atau jangan-jangan selama ini, kita salah mengeja "Kelelahan" dengan "Kemalasan"!


*kisah penempaan Khalid bin Walid dan Saad bin Abi Waqash

hanya interpretasi penulis

133-134 Hidup Sa Kali Lagi

Solusi dari rasa lelah

 Berpeluh dalam Kebaikan

Percaya enggak? Satu pintu kebaikan akan menuntun kita pada pintu kebaikan lainnya yang lebih besar. Pertanyaannya, seberapa sabar dan kuat kita membuka pintu demi pintu kebaikan itu?

Karena sudah jadi kepastian, tak ada kebaikan tanpa kesu litan. Maka, seberapa tangguh kita bertahan di sana?

Begitulah, Hidayah tak bisa langsung besar. la seperti anak tangga yang harus ditapaki setapak demi setapak hingga kita sampai puncak. Kalau hari ini turun tiga anak tangga, pastikan esok kita daki lima anak tangga. Agar pantas Allah beri kita hidayah-hidayah besar!

Seseorang yang Allah izinkan salat di sepertiga malam, tak bisa langsung bangun begitu saja. Usahanya panjang! Saat siang ia harus menutup pintu-pintu maksiat. Harus mendekat pada Allah dengan Al-Qur'an, salat-salat sunnah, zikir, dan ibadah lainnya. Barulah, Allah berikan hidayah padanya berupa salat malam.

Begitu juga para Assabiqunal Awaalun. Mereka tercatat punya usaha keras untuk bisa Allah izinkan mengecap kebaikan demi kebaikan.

Seperti Zaid bin Tsabit yang tak menyerah berbuat baik, walau ditolak dua kali dalam Perang Badar dan Uhud. Tak habis akal, ia beranikan diri untuk menjadi penerjemah dan penulis Rasulullah SAW. Begitulah, Zaid ra. akhirnya berhasil menjadi "tangan kanan" Sang kekasih Allah. Kebaikan dan keberkahan menyelimuti hidupnya.

Atau Ummu Sulaim dengan ide kebaikannya yang brilian! la tawarkan anaknya, Anas bin Malik untuk menjadi Asisten Pribadi Rasulullah SAW. Anas ra. lalu menjadi salah satu periwayat hadist terbanyak, juga guru bagi para ulama besar. Maka mengalirlah dengan deras amal jariyah pada sang ibunda.

Begitulah, ternyata bukan perkara mudah untuk turut serta berjuang dalam kebaikan. Tak bisa hadir begitu saja modal santai menunggu ajakan apalagi rayuan. Tentu, karena hadiahnya surga, bukan hanya tiket liburan akhir pekan.

Perlu tekad yang kuat, percaya dengan kemampuan diri, keberanian mendekati pusaran kebaikan, keberanian mengajukan diri, hingga tak menyerah saat ditolak.

Bukankah merupakan tanda cinta-Nya, saat Allah izinkan kita berpeluh dalam kebaikan?

"Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka Dia akan mempekerjakannya, beliau ditanya, 'Bagaimana Allah akan mempekerjakannya, wahai Rasu- lullah SAW?, beliau menjawab: 'Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalih sebelum meninggal'. (HR.Tirmidzi no.304)

Jadi, selamat berjuang untuk berbuat baik.


(141-142, Hidup Satu Kali Lagi)