Sacrifice Is a Choice. Victimhood Is a Mindset.


"Love should make you grow, not disappear."

Ada narasi yang diam-diam diwariskan kepada banyak perempuan.

Bahwa semakin banyak seorang ibu kehilangan, semakin layak ia disebut ibu yang baik.

Waktu, Karier, Pertemanan.

Lalu, perlahan... dirinya sendiri.

Yang membuatku merenung, kehilangan itu sering kali dirayakan.

Seolah perempuan baru pantas disebut hebat ketika ia habis.

"Some sacrifices deserve applause. Losing yourself never does."

Padahal setiap cinta memang membutuhkan pengorbanan.

Namun pengorbanan tidak sama dengan menjadi korban.

Berkorban adalah pilihan.

Mental korban adalah identitas.

"Sacrifice is a choice. Victimhood is a mindset."

Aku ingin anakku tahu bahwa aku memilihnya.

Dengan sadar.

Dengan cinta.

Bukan dengan penyesalan.

Karena cinta yang sehat tidak pernah membuat orang yang dicintai merasa berutang.

"Love doesn't keep score."

Lalu aku menyadari...

Anakku adalah karyaku.

Namun ia bukan milikku.

Ia adalah manusia yang sedang kupersiapkan untuk hidupnya sendiri.

Hari ini ia menggenggam tanganku.

Suatu hari nanti, ia akan mengepakkan sayapnya.

"The goal is not to keep them close forever, 

but to help them fly."

Mungkin itulah mengapa seorang ibu tidak boleh kehilangan dirinya.

Karena ketika anak-anak mulai terbang, 

kita pun tetap harus memiliki kehidupan yang menunggu untuk dijalani.

Masih belajar.

Masih bertumbuh.

Masih berkarya.

"The greatest gift you can give your children is a mother who never stops becoming."

Pada akhirnya...

Anak tidak membutuhkan ibu yang habis demi mereka.

Mereka membutuhkan ibu yang utuh.

Yang menunjukkan bahwa cinta memang membutuhkan pengorbanan.

Tetapi cinta tidak pernah meminta kita kehilangan diri sendiri.

You can sacrifice without becoming a victim. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

pidato Menghindari Malas.

LAPORAN HASIL PENELITIAN GEOGRAFI Pencemaran air sungai

Karakter yang Harus Kita Miliki Sebagai Muslim (Bagian 1)  |