Sacrifice Is an Expression of Love. Victimhood Is When Sacrifice Becomes Your Identity
"Love should make you grow, not disappear."
Ada satu narasi yang diam-diam diwariskan kepada banyak perempuan.
Bahwa semakin banyak seorang ibu kehilangan, semakin mulia cintanya.
Ia kehilangan waktu.
Ia kehilangan tidur.
Ia kehilangan kesempatan.
Ia kehilangan ruang untuk dirinya sendiri.
Lalu, perlahan...
ia kehilangan identitasnya.
Ironisnya, kehilangan itu sering kali dirayakan.
Seolah seorang perempuan baru pantas disebut ibu yang baik ketika ia habis.
"Some sacrifices deserve applause. Losing yourself never does."
Padahal aku percaya, setiap cinta memang membutuhkan pengorbanan.
Rumah tangga membutuhkannya.
Menuntut ilmu membutuhkannya.
Merawat mimpi membutuhkannya.
Dan menjadi ibu... tentu juga demikian.
Love always costs something.
Namun ada satu hal yang sering tertukar.
Pengorbanan adalah bagian dari ikhtiar seorang hamba.
Ikhlas membuat pengorbanan terasa ringan.
Sedangkan merasa diri terus-menerus sebagai korban membuat setiap pengorbanan terasa seperti tagihan.
Di zaman ketika luka sering dijadikan identitas, ketika kelelahan dijadikan ukuran cinta, dan ketika pengorbanan perlahan berubah menjadi alasan untuk merasa paling terluka, aku ingin terus mengingat satu hal:
Sacrifice is an expression of love. Victimhood is when sacrifice becomes your identity.
Aku tidak ingin anakku tumbuh dengan keyakinan bahwa kehadirannya telah merampas hidup ibunya.
Aku ingin ia tahu bahwa aku memilihnya.
Dengan penuh syukur atas amanah yang Allah titipkan.
Dengan cinta.
Bukan dengan penyesalan.
Karena cinta yang lahir dari keikhlasan tidak pernah membuat orang yang dicintai merasa berutang.
"Love doesn't keep score."
Lalu aku menyadari sesuatu.
Anakku bukan milikku.
Ia adalah amanah.
Seorang hamba Allah.
Yang untuk sementara Allah titipkan dalam pelukanku.
Hari ini ia menggenggam jemariku.
Masih berlari kecil dengan tawa yang memenuhi rumah.
Masih memintaku menggendongnya ketika dunianya terasa terlalu besar.
Masih menjadikan pelukanku sebagai tempat paling aman.
Namun aku tahu...
fase ini tidak akan selamanya.
Suatu hari nanti, insyaAllah...
langkah-langkah kecil itu akan menjadi langkah yang mantap.
Tangannya tak lagi selalu mencari tanganku.
Dan sayap yang hari ini sedang bertumbuh akan membawanya terbang menuju jalan yang telah Allah tetapkan.
"The goal is not to keep them close forever, but to help them fly."
Barangkali itulah mengapa seorang ibu tidak boleh kehilangan dirinya.
Karena ketika anak-anak mulai berjalan menuju takdirnya, kita pun tetap memiliki perjalanan menuju Allah.
Aku ingin tetap membaca.
Tetap belajar.
Tetap menulis.
Tetap membuat jurnal.
Tetap berkarya.
Tetap memelihara rasa ingin tahu.
Bukan karena aku kurang mencintai anakku.
Justru karena aku ingin ia melihat bahwa menjadi ibu bukanlah akhir dari perjalanan seorang perempuan.
Melainkan awal dari cara baru untuk bertumbuh.
Aku ingin ia mengenalku sebagai perempuan yang terus memperbaiki diri.
Yang tidak berhenti mencari ilmu.
Yang tidak berhenti memperluas hati.
Yang memahami bahwa mencintai keluarga tidak pernah bertentangan dengan terus bertumbuh.
"The greatest gift you can give your children is a mother who never stops becoming."
Hari ini...
anakku baru berada di awal perjalanannya.
Ia masih menggenggam jemariku.
Masih memanggilku dengan suara kecil yang memenuhi rumah dengan kehidupan.
Dan sejujurnya...
aku pun masih berada di awal perjalananku.
Masih belajar menjadi ibu.
Masih belajar menjadi istri.
Masih belajar menjadi perempuan yang tidak kehilangan dirinya di tengah begitu banyak peran yang Allah titipkan.
Masih ada hari ketika aku lelah.
Masih ada hari ketika aku menangis.
Masih ada hari ketika aku merasa tidak cukup.
Namun berubah...
tidak sama dengan menghilang.
Aku boleh berkorban.
Tetapi aku tidak ingin menjadikan pengorbanan sebagai identitasku.
Karena pada akhirnya...
anak-anak tidak membutuhkan ibu yang habis demi mereka.
Mereka membutuhkan ibu yang utuh.
Ibu yang menunjukkan, lewat hidupnya sendiri, bahwa mencintai karena Allah tidak pernah meminta seseorang kehilangan dirinya.
Melainkan mengajarkannya bahwa pengorbanan adalah bahasa cinta, keikhlasan adalah jalan seorang hamba, dan cinta yang tulus tidak pernah menjadikan mental korban sebagai identitas.
"You can sacrifice without becoming a victim."
Karena pada akhirnya, menjadi ibu bukan tentang seberapa banyak kita kehilangan.
Melainkan tentang bagaimana kita memilih untuk tetap mencintai, tetap bertumbuh, dan tetap pulang kepada Allah.
Aku tidak berharap dikenang sebagai ibu yang sempurna.
Aku hanya berharap, semoga Allah menumbuhkan anak-anakku menjadi manusia yang baik, saleh, berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesamanya.
Dan semoga, suatu hari nanti, mereka dapat berkata bahwa mereka pernah dibesarkan oleh seorang ibu yang terus belajar mencintai sepenuh hati, berkorban dengan ikhlas, menjaga amanah dengan penuh syukur, dan tidak pernah berhenti bertumbuh di jalan yang Allah ridai.
Bukan ibu yang sempurna.
Melainkan ibu yang, setiap kali jatuh, memilih bangkit.
Setiap kali lelah, kembali meluruskan niatnya.
Setiap kali kehilangan arah, selalu pulang kepada Rabb-nya.
Yang memahami bahwa pengorbanan adalah bahasa cinta.
Bahwa keikhlasan adalah jalan seorang hamba.
Dan bahwa cinta yang tulus tidak pernah menjadikan mental korban sebagai identitas.
Semoga Allah memampukanku menjalani setiap amanah ini dengan hati yang lapang.
Menjadikan setiap pengorbanan bernilai ibadah.
Menjaga hatiku dari rasa pahit.
Menumbuhkan syukur di setiap musim kehidupan.
Dan kelak, ketika anak-anakku telah mengepakkan sayapnya menuju kehidupan yang Allah tetapkan, semoga aku pun masih terus bertumbuh sebagai seorang perempuan, sebagai seorang ibu, dan yang terpenting, sebagai seorang hamba yang tidak pernah berhenti belajar mengenal Rabb-nya.
Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.
Wallāhu a'lam.
Komentar
Posting Komentar